English French German Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 18 Mei 2010

AYO, MULAI INVESTASI EMAS!!!


Setelah memahami real interest rate dan real rate of return dengan baik, kini mari kita berinvestasi dalam emas. Yang namanya investasi, pada umumnya dimulai dengan membeli pada saat harga rendah dan menjual kembali ketika harganya naik. Selisih pembelian yang rendah dan penjualan pada harga tinggi itulah yang disebut keuntungan. Langkah serupa pun terjadi jika Anda bermaksud berinvestasi di emas. Anda harus membeli emas sebagai langkah awal. Di Indonesia, umumnya terdapat tiga macam produk emas, yaitu perhiasan, koin, dan batangan. Tentu saja, masing-masing jenis emas tersebut memiliki plus minus sendiri.

Pada artikel sebelumnya, kita sudah mulai dengan pengenalan secara singkat tentang berinvestasi emas. Satu pesan penting yang disampaikan saat itu adalah, pelajari baik-baik seluk-beluk emas sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi. Ya. Belajar benar-benar menjadi kata kunci sebagai tahapan yang harus dilalui. Tanpa memahami dengan baik dan benar, maksud mengail untung malah bisa berujung jadi buntung. Tentu Anda tidak mau, bukan?

Nah, sebelum mulai berinvestasi emas, ada baiknya Anda mengingat kembali dua istilah penting. Pertama, tingkat bunga riil atau real interest rate. Tingkat bunga riil merupakan faktor penting untuk membandingkan penghasilan efektif dari investasi yang berbeda-beda.

Tingkat bunga dihitung dengan tingkat bunga nominal (yang ditetapkan) dikurangi tingkat inflasi.

Tingkat suku bunga riil bisa diketahui dengan menghitung nilai sekarang atau nilai yang akan datang dengan memperkirakan tingkat inflasi pada masa yang akan datang. Misalnya, Anda membeli obligasi atau menyimpan dana pada sertifikat deposito yang mempunyai tingkat penghasilan 11% per tahun. Pada saat itu, inflasi sebesar 5%. Maka tingkat bunga riil yang akan Anda terima sebesar 11% - 5% = 6%. Angka 6% ini menjadi pendapatan bersih Anda sebelum pajak.

Tapi tunggu dulu, pendapatan yang Anda terima setelah dikurangi inflasi 5% plus pajak atas bunga tadi ternyata belum benar-benar bisa masuk kocek dengan mulus. Pasalnya, angka pastinya masih sangat mungkin berubah. Jika inflasi meningkat hingga lebih dari 5%, nilai investasi akan turun karena pendapatan bunga yang menurun sebagai akibat kenaikan harga secara umum. Sebaliknya, bila angka inflasi turun, tentu saja nilai investasi tadi jadi naik.

Kedua, pendapatan bersih investasi atau biasa disebut dengan real rate of return. Kalau yang ini adalah sejumlah pendapatan yang diterima dari suatu investasi setelah dikurangi tingkat inflasi yang terjadi saat dana tersebut ditanamkan. Pendapatan ini disebut juga sebagai tingkat bunga nyata. Misalnya, seorang investor memperoleh pendapatan sebesar 8% dengan tingkat inflasi 3%. Maka pendapatan bersih yang dia terima adalah 5%.


Perhatikan plus-minusnya

Perhiasan emas, misalnya. Jika membeli perhiasan emas, berarti Anda membayar harga emas ditambah dengan biaya pembuatan perhiasan tersebut. Namun saat emas perhiasan itu dijual, biasanya toko hanya membayar harga emasnya saja, sedangkan ongkos pembuatannya menjadi biaya bagi Anda. Pasalnya, di dalam harga perhiasan terdapat komponen biaya pembuatannya yang rata-rata nilainya di atas 7%. Dengan demikian, otomatis harga jual yang didapat pasti lebih kecil dibandingkan pada waktu pembelian. Ini sisi minusnya.

Sedangkan nilai plusnya, dengan memiliki perhiasan memang membuat kita bisa tampil lebih bergaya. Orang juga bisa 'mengukur' tingkat kemakmuran si pemakai perhiasan tersebut. Namun sayangnya, harga yang mesti dibayar jauh lebih mahal dari nilai emasnya. Singkat kata, berinvestasi dalam bentuk perhiasan memang tidak salah. Hanya saja hasilnya kurang optimal.

Bentuk emas kedua dan ketiga adalah koin dan batangan. Sebagai investasi, koin emas biasanya lebih menguntungkan ketimbang perhiasan. Jika kocek cukup tebal, sebaiknya pilihlah emas batangan atau logam mulia. Jenis emas ini jelas punya lebih benyak kelebihan dibandingkan dalam bentuk perhiasan. Dengan emas batangan, Anda tidak dibebani ongkos pembuatan seperti pada perhiasan. Artinya, harga yang dibayar hanya emasnya saja. Demikian juga ketika menjual. Emas batangan juga mudah dijual kembali. Atau, jika memang tidak sedang kepepet, emas koin dan batangan oke juga untuk disimpan.

Singkat kata, emas batangan adalah produk investasi emas yang paling menguntungkan.

Untuk membeli emas batangan juga sangat mudah. Selain di toko emas, bisa juga mendatangi PT Aneka Tambang Tbk. Perusahaan milik negara yang sudah mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) ini menyediakan emas batangan dengan ukuran yang beragam. Kalau mau, Anda bahkan bisa membeli yang per batang mencapai berat 1 kilogram.


Share/Bookmark

INVESTASI EMAS??? SIAPA TAKUT???


Emas. Siapa yang tak kenal dengan logam mulia ini? Dengan seabrek keunggulannya, terutama nilai ekonomisnya yang yahud, menjadikan logam mulia ini begitu berharga. Bukan hanya hari ini, tapi ribuan tahun sebelum Neil Armstong menjejakkan kakinya di bulan. Nah, sebagai zat yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, mungkinkah kita beternak emas agar beranak pinak dengan sentosa?

Investasi emas adalah jawaban untuk pertanyaan di atas. Bicara soal investasi, khususnya emas, sejatinya tidak melulu belajar bagaimana menanam dan mengembangkan objek investasinya. Kita juga harus mengetahui bagaimana memperoleh, menyimpan, dan menggunakan emas. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memilih perusahaan kredibel bagi kita untuk bertanya tentang keaslian dan seluk-beluk emas. Terakhir, kita juga musti paham bagaimana cara menjual emas.

Di atas semua itu, yang terpenting sebelum melakukan investasi emas adalah belajar. Langkah ini menjadi maha penting, karena jika kita tidak mengetahui seluk-beluk investasi ini sama halnya dengan memasuki hutan belantara tanpa peta dan kompas. Belajar memilki arti luas. Antara lain, belajar mengenal faktor eksternal yang akan berdampak pada usaha, juga belajar dari kegagalan pihak lain dalam berinvestasi.

Banyak orang yang stress akibat penurunan nilai aset yang dimilikinya. Dan yang paling sering dilihat adalah pelaku pasar modal yang terobsesi mencapai capital gain. Mereka biasanya adalah pemain-pemain baru yang hanya melihat keberhasilan-keberhasilan seniornya dalam mengeruk keuntungan. Pada saat yang sama, para junior ini enggan melihat seniornya dalam hal berinvestasi, trading, dan menggunakan portofolionya.


Learn, then buy

Begitu juga dalam berinvestasi emas, sebaiknya Anda membeli buku-buku yang ada hubungannya dengan emas. Dari sini Anda bisa melihat sejarah emas serta mengambil hikmah apa yang telah terjadi di masa lalu.

Para pendahulu kita pernah membuat formulasi: the education first, the investment second. Akan tetapi, dalam berinvestasi emas yang lebih tepat adalah belilah surat kabar bisnis atau browsing internet sebelum berinvestasi emas. Kedua sumber informasi tersebut sangat membantu Anda dalam berinvestasi emas. Pasalnya, emas bersifat global, dilihat penduduk dunia setiap hari tanpa henti. Berita di belahan timur bumi ini akan mempengaruhi harga emas di belahan barat bumi. Begitu juga sebaliknya.

Pada zaman modern ini, banyak sekali sumber informasi, khususnya dari internet. Surat kabar dan internet memang berkembang menjadi sumber daya penting, terlebih lagi pada tahun-tahun yang akan datang. Ini adalah sumber-sumber informasi yang selalu Anda butuhkan. Tetapi sebaiknya Anda harus mampu memilah dan memilih informasi tersebut sehingga tidak salah dalam berinvestasi.


Share/Bookmark

EMAS SEBAGAI PENANGKAL INFLASI


Apa motif Anda berinvestasi? Pertanyaan ini memang terdengar sederhana. Jawabannya pun tidak terlalu rumit. Sebagian besar dari kita bisa menjawabnya dengan, misalnya, untuk melipatgandakan kekayaan. Sebagian lain bisa menyodorkan jawaban untuk menghasilkan uang guna membiayai hidup.

Apa pun motivasi kita berinvestasi, tampaknya ada benang merah yang menghubungkannya. Yaitu, hasrat memutar dana yang ada agar sang fulus tidak diam menganggur. Lho, bukankah berinvestasi tidak menjamin duit pasti beranak-pinak. Kalau salah langkah, jumlahnya malah menyusut bahkan amblas dihajar rugi. Kalau sudah begitu, bukannya untung tapi buntung yang menghampiri.

Memang benar, duit yang tidur memang tidak akan berkurang jumlahnya (kecuali, tentu saja, dicuri atau tindak kriminal lain). Tapi coba perhatikan dengan baik, sejatinya nilai uang itu sudah berkurang. Tidak percaya? Di awal tahun, dengan uang Rp 1 juta, misalnya, Anda bisa mencukupi kebutuhan belanja dapur bulanan. Tapi di akhir tahun, hanya bermodal jumlah yang sama, jumlah dan item belanjaan dapur yang bisa dibeli pasti sudah berkurang. Benar, kan?

Kalau begitu, gerangan apakah yang terjadi? 'Setan jahat' mana yang menggerogoti nilai tukar uang kita? Makhluk tak tampak yang Anda cari-cari itu bernama inflasi. Ya, inflasilah yang menjadi hantu penggerogot nilai tukar uang. So, untuk menaklukkannya Anda harus memutar uang. Anda harus berinvestasi.


Anti inflasi

Ada beragam pilihan investasi yang bisa dilakoni. Mau sektor riil, ada buka warung, buka pabrik, sampai membangun mal atau hotel megah. Kalau kepincut sektor finansial, Anda boleh mencicipi berbagai paper asset. Mulai dari saham, obligasi, reksadana, futures trading alias perdagangan berjangka, exchange traded fund (ETF), option, dan lainnya.

Eit, masih ada, lho, satu instrumen lain yang tidak kalah yahud return-nya. Ia adalah emas. Bahkan, investasi yang satu ini bisa disebut paling oke untuk menghadapi hantu inflasi. Rentetan fakta membuktikan emas adalah produk investasi yang bisa menangkal inflasi. Sepanjang sejarah terbukti emas akan diborong orang saat terjadi kepanikan yang bisa membahayakan ekonomi negara. Sebut saja perang, krisis keuangan, dan ya itu tadi, inflasi tinggi.


Ketika Cina diserbu Jepang pada masa Perang Dunia, rakyat Cina panik dan mereka berbondong-bondong menyerbu emas. Akibatnya, harga emas naik luar biasa. Di Indonesia, pada saat terjadi pasar-pasar swalayan dilanda rush kebutuhan pokok, harga emas juga langsung melonjak. Hanya dalam tempo satu dua hari saja, harga emas langsung naik kurang lebih sebanyak 1,5 kali lipat atau 150%. Kendati fluktuatif, harga emas cenderung naik terus waktu itu. Sebelum krisis, tepatnya pada 1993an, harga emas 24 karat sekitar Rp 24.000. Namun pada 1998 harganya melonjak sangat tinggi, mencapai Rp 140.000/gram. Menjelang akhir 2007, harga emas sudah tembus Rp 200.000/gram. Jadi, makin tinggi inflasi, makin ciamik juga return dari investasi emas.

Tuh kan, inflasi lagi. Jadi, sejatinya apakah inflasi itu. Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Jika diasumsikan inflasi 15% per tahun, maka harga barang dan jasa yang kini bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau dua kali lipat pada tahun ke-6. Pada tahun ke-9, nilainya menjadi Rp 15,3 juta atau tiga kali lipat. Begitu seterusnya. Begitu jahatnya inflasi, sehingga semua pemerintahan berusaha menekan hingga mencapai level tertentu yang dianggap aman.

Para ekonom membagi inflasi dalam tiga kategori. Pertama, inflasi moderat. Yaitu bila laju inflasi berada di bawah dua digit alias kurang dari 10% per tahun. Kedua, inflasi super. Yaitu jika laju inflasi berada pada dua digit per tahun (10%-99%). Ketiga, inflasi hiper. Suatu negara disebut mengalami hyper inflation, bila laju inflasi menembus tiga digit per tahun alias 100% atau lebih. Di masa Orde Lama, Indonesia pernah mengalami inflasi hingga 600an%. Dahsyat, ya?



Untung karena inflasi

Tadi telah disebut emas bisa menjadi alternatif investasi yang bersifat kebal terhadap inflasi. Tapi tahukah Anda, bahwa emas bukan hanya anti inflasi, ia bahkan juga sahabat inflasi? Pasalnya, makin tinggi inflasi yang terjadi di suatu negara, makin tinggi pula return yang dihasilkan dari emas.

Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukkan bahwa bila inflasi mencapai 10%, maka emas akan naik 13%. Hebatnya lagi, laju kenaikan harga emas tidak linear dengan inflasi. Harga emas cenderung melonjak-lonjak liar. Sementara inflasi lebih suka bergerak perlahan namun pasti. Bila inflasi 20%, maka emas akan naik 30%. Tetapi bila inflasi 100%, maka emas Anda akan naik 200%.

Sampai di sini, apakah angka-angka ini cukup membuat Anda kepincut berinvestasi di emas? Mestinya, iya. Emas terbukti sebagai investasi penangkal inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin baik kenaikan nilai emas yang Anda miliki.

Meski demikian, Anda patut mencermati satu hal. Harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah. Ada juga risiko berinvestasi dalam bentuk emas (biasalah, tidak ada investasi yang tanpa risiko, kan?). Yaitu, harga emas cenderung sedikit turun bila laju inflasi di bawah dua digit. Jadi, emas hanya akan bagus bila terjadi inflasi moderat (dua digit). Akan lebih bagus lagi jika terjadi inflasi hiper alias kalau sudah mampir di tiga digit.


Share/Bookmark

SPESIFIKASI KONTRAK BERJANGKA EMAS


Setelah mempelajari seluk-beluk emas, tentu pemahaman Anda tentang produk ini sudah cukup memadai. Rasanya kini saatnya kita belajar spesifikasi Kontrak Berjangka Emas yang ditransaksikan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dengan kode GOL.

Spesifikasi Kontrak Berjangka Emas:

Kode Kontrak

GOL

Dasar Kontrak

1 kg Emas dengan 99.9 finest kualitas LBMA

Satuan Kontrak

1 kg (1000 gram)

Bulan Kontrak

3 (tiga) bulan berturut-turut, sehingga setiap hari perdagangan terdapat tiga Bulan Kontrak

Hari & Jam Perdagangan

Setiap hari perdagangan
Pukul 09.30 – 17.30 WIB

Pasca Penutupan

· Sesi Pasca Penutupan dilaksanakan setiap hari perdagangan yaitu mulai pukul 17.45 WIB sampai dengan 18.00 WIB.

· Amanat beli dan jual yang dimasukkan kedalam JAFeTS adalah pada Harga Penyelesaian hari itu

Tukar Fisik dengan Berjangka

Pihak-pihak yang melakukan transaksi jual/beli Emas diluar bursa dapat mendaftarkannya ke Bursa untuk ditukar dengan transaksi berjangka bagi kedua belah pihak.

Hari Perdagangan Terakhir

Perdagangan untuk suatu Bulan Kontrak, berakhir pada akhir sesi Pasca Penutupan pada hari perdagangan ketiga sebelum hari kerja terakhir bulan yang bersangkutan. Apabila hari perdagangan ketiga sebelum hari kerja terakhir tersebut bukan merupakan hari perdagangan, maka hari perdagangan sebelumnya menjadi hari perdagangan terakhir.

Harga

Rupiah per gram (termasuk PPN)

Perubahan Harga Minimum (Tik)

Rp 50,-/gram (termasuk PPN)
Rp 50.000,-/lot (termasuk PPN)

Batas Perubahan Harga

Rp. 5000,- per gram diatas atau dibawah Harga Penyelesaian hari perdagangan sebelumnya. Batas perubahan harga ini tidak berlaku untuk Bulan Berjalan dan Bulan Terdekat, kalau Bulan Berjalan sudah tidak diperdagangkan lagi.

Waktu Pemberitahuan Penyerahan

Pihak yang mempunyai posisi jual pada Bulan Berjalan, dapat melakukan Pemberitahuan Penyerahan dalam waktu 3 (tiga) hari perdagangan terakhir Bulan Berjalan.

Waktu Pemberitahuan Alokasi

Segera setelah sesi Pasca Penutupan dan penyampaian Surat Pemberitahuan Penyerahan

Waktu Serah

Paling lambat 2 (dua) hari perdagangan setelah Pemberitahuan Penyerahan

Mutu

Emas dengan kualitas kemurnian minimum 99,99% dilengkapi dengan angka seri & stempel dari refineri yang diakui oleh LBMA (bisa dari dalam dan luar negeri)

Tempat Penyerahan

Di Gudang Terdaftar di Jakarta dan Surabaya, Pilihan tempat penyerahan berada pada penjual

Satuan Penyerahan

1 kg

Posisi Wajib Lapor

150 lot

Batas Posisi Spekulatif

500 lot


Share/Bookmark

SOLUSI HARVEST


Apa yang Anda rasakan setelah membaca artikel Kontrak Berjangka Emas? Mulai tertarik berinvestasi emas di Bursa Berjangka? Kalau ya, Anda tinggal menghubungi PT HARVEST INTERNATIONAL FUTURES (HARVEST). Kami merupakan perusahaan yang sangat tepat guna memenuhi kebutuhan Anda. HARVEST adalah satu dari sangat sedikit Pialang yang mendedikasikan diri untuk kontrak-kontrak komoditas primer yang ditransaksikan di BBJ. Selama ini sebagian besar Pialang lebih asyik bertransaksi produk-produk finansial yang bukan merupakan ‘anak kandung’ BBJ.

Apa yang ditawarkan HARVEST? Sesuai dengan visi dan misi kami, PT HARVEST INTERNATIONAL FUTURES akan senantiasa mendampingi Anda dalam bertransaksi di perdagangan berjangka. Itulah sebabnya kami layak menjadi partner yang andal dan terpercaya bagi Anda dalam berinvestasi. Beberapa keunggulan kami dibandingkan perusahaan sejenis lainnya dapat Anda klik Mengapa HARVEST di sini.
Di HARVEST, keamanan dan kenyamanan Anda dalam bertransaksi GOL menjadi tujuan utama kami. Hal itu diwujudkan dengan keramahtamahan dan profesionalitas layanan. Fasilitas leverage pun kami berikan dalam skala yang lebih besar. Untuk transaksi GOL yang menginap, margin requirement adalah 10% dari nilai transaksi riil. Artinya, Anda berhak menikmati leverage sebesar 1:10. Namun untuk transaksi yang diselesaikan pada hari itu juga atau day trading, dana yang dibutuhkan cuma 5% alias 1:20.
Aman, Nyaman, dan Murah

Bayangkan, leverage-nya 1:20! Artinya, di HARVEST untuk transaksi 1 kg emas senilai Rp 300 juta dana yang Anda harus sediakan hanya Rp 15 juta. Dengan keuntungan Rp 10 juta per 1 lot, ROI yang Anda reguk adalah Rp 10 juta/Rp 15 juta = 66,6%. Pertanyaannya, ragam investasi apakah yang mampu memberikan return hingga 66,6% dari sekali transaksi dalam tempo yang relatif singkat?

Bagaimana dengan biaya yang harus dibayar? Jangan khawatir, bertransaksi GOL di HARVEST hanya dikenai commission fee sebesar Rp 250.000/lot settled. Ini berarti untuk tiap gram emas yang Anda transaksikan komisi yang harus dibayar cuma Rp 250 alias 0,083%. Sangat murah, bukan?

Hanya dengan membayar Rp 250/gram kepada HARVEST, Anda bebas dari segala risiko seperti yang terjadi pada transaksi emas fisik. Bebas dari risiko repot dan rawannya keamanan mondar-mandir pergi dan pulang untuk membeli dan menjual emas. Bebas dari risiko emas palsu atau kadar yang tidak sesuai ketentuan. Bebas dari risiko keamanan karena tangan-tangan jahil atau berbagai musibah lain saat penyimpanan.

Sebagai informasi tambahan, harga emas yang menjadi patokan di Bursa Berjangka diperoleh dari pedagang emas besar, yaitu PT CIC. Data ini bisa diakses melalui trading system di BBJ yang disebut Jakarta Futures Exchange System (JAFETs). Lalu, masa transaksinya selama tiga bulan. Jika tidak menghendaki menerima atau menyerahkan emas yang ditransaksikan, Anda harus meng-offset atau melikuidasi posisi sebelum jatuh tempo.

Lewat berbagai fasilitas tersebut, terbukti HARVEST memberikan solusi bagi Anda dalam bertransaksi emas berjangka secara aman, nyaman, dan dengan biaya yang sangat murah. So, tunggu apa lagi? Silakan Anda hubungi kami sekarang juga.


Share/Bookmark

KONTRAK BERJANGKA EMAS


Kita sudah coba telisik hal-ihwal berinvestasi emas fisik. Pendek kata, berinvestasi emas secara fisik amat merepotkan dan sekaligus ‘mengerikan’ dari sisi keamanan. Agar lebih jelasnya, Anda bisa mengklik artikel berjudul Transaksi Emas Fisik di sini.

Adakah solusi yahud dari problem klasik ini? Syukurlah, ada! Di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sejak beberapa waktu lalu ada instrumen investasi emas yang menarik. Mata dagangan ini disebut Kontrak Berjangka Emas, atau di bursa dikenal dengan kode GOL.

Kalau tujuan Anda berinvestasi emas untuk mengail untung dari terjadinya selisih pergerakan harga, maka GOL adalah jawaban paling tepat. Bayangkan, Anda bisa meraup profit tanpa harus direpotkan dengan segala tetek-bengek seperti pada investasi fisik emas secara konvensional tadi.Soal mondar-mandir ke penjual dan pembeli emas, misalnya, ini sama sekali tidak perlu terjadi. Anda hanya perlu membuka rekening di PT HARVEST INTERNATIONAL FUTURES (HARVEST). Perusahaan ini adalah Pialang Berjangka yang melayani transaksi GOL. Selanjutnya aktivitas transaksi jual dan beli dilakukan dengan bantuan HARVEST. Anda cukup memberikan perintah lewat telepon kepada Dealing Room HARVEST. Cara ini bukan saja praktis, tapi sekaligus memupus risiko rawannya keamanan seperti pada transaksi emas fisik.
Bursa berjangka juga menihilkan risiko kadar dan keaslian emas yang ditransaksikan. Di sini, mutu emas yang dapat diserahkan untuk pemenuhan penyelesaian kontrak adalah berbentuk batangan dengan kemurnian minimum 99,99%. Selain itu, emas tadi harus dibubuhi angka seri, kemurnian, dan stempel dari refineri yang diakui London Bullion Market Association (LBMA) baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan persayaratan yang begitu ketat, keaslian dan kemurnian emas di Bursa Berjangka sangat terjamin.
Modal kecil Untung besar

Masih soal jual-beli tadi, Anda juga tidak perlu menyediakan 100% dana yang dibutuhkan. Di bursa, transaksi emas dikemas dalam satuan lot. Tiap lot beratnya 1 kg. Kalau harga di pasar Rp 300 juta/kg, Anda cukup menyediakan dana 10% dari kebutuhan alias cuma Rp 30 juta. Hal ini dimungkinkan karena di pasar berjangka dikenal adanya fasilitas leverage atau daya ungkit. Leverage adalah fasilitas yang memungkinkan investor atau trader melakukan transaksi yang nilai sesungguhnya jauh lebih besar dengan dana relatif kecil.

Jadi, jika di pasar fisik Anda punya Rp 300 juta hanya untuk emas 1 kg, dengan modal yang sama di pasar berjangka Anda bisa melakukan transaksi jual-beli hingga 10 kali lipat alias senilai Rp 3 miliar. Bahkan untuk transaksi harian, di HARVEST dana Rp 300 juta bisa untuk melakukan transaksi senilai Rp 6 milar. Bayangkan, dahsyat bukan?

Dahsyatnya leverage ini pula memungkinkan Return Of Investment (ROI) yang Anda nikmati menggelembung dengan luar biasa. Seperti pada contoh di pasar fisik tadi, misalnya. Anda membeli emas pada harga Rp 300 juta/kg. Ketika harga terkerek ke Rp 310 juta/kg, maka ada laba Rp 10 juta/kg. Bedanya, di pasar berjangka dana yang Anda butuhkan bukan Rp 300 juta, melainkan cuma Rp 30 juta. Jadi, ROI-nya adalah Rp 10 juta/Rp 30 juta = 33,3%. Bayangkan, dengan modal yang jauh lebih kecil, tapi ROI yang Anda jaring bisa jauh lebih besar. Ciamik, kan?

Keunggulan lain di bursa berjangka, peluang memperoleh laba terbuka melalui dua arah, baik saat harga naik atau turun. Di pasar fisik, untuk bisa meraup laba, Anda harus membeli dulu baru menjual dengan harga lebih tinggi. Jika harga terus bergerak ke bawah alias lebih rendah daripada harga saat Anda beli, maka profit gagal diraih. Jika Anda jual juga yang terjadi bukannya untung justru malah buntung.

Di perdagangan berjangka, Anda bisa menjual lebih dulu walau emasnya belum di tangan. Langkah ini dilakukan jika menurut prediksi harga emas akan melorot ke bawah. Saat harga benar-benar turun, barulah Anda beli emas. Nah, selisih harga jual-beli itulah yang disebut profit.

Contohnya begini. Harga emas saat itu adalah Rp 300.000/gr. Diprediksi bulan depan, harganya akan turun menjadi Rp 290.000. Anda pun mengambil posisi jual pada harga Rp 300.000. Bulan depan, ketika harga benar-benar turun menjadi Rp 290.000/gr, Anda melikuidasi posisi dengan cara melakukan aksi beli. Dengan begitu, Anda mendapat laba Rp 10.000/gr atau Rp 10 juta/lot.

Aysik, kan? Pertanyaannya, bagaimana caranya berinvestasi emas secara berjangka? Silakan Anda klik artikel HARVEST SOLUSINYA di sini.


Share/Bookmark

INVESTASI EMAS


Emas memiliki begitu banyak kelebihan sebagai alternatif investasi. Selain harganya yang cenderung terus naik, emas juga bisa mejadi alat ampuh untuk menangkal inflasi. Berbeda dengan beragam aset lain seperti tabungan, deposito, saham, obligasi, bahkan rumah, yang dari waktu ke waktu nilainya terus berkurang digerus inflasi. Inflasi justru menjadi ‘vitamin’ bagi melonjaknya harga emas. Kian tinggi inflasi, kian dahsyat pula kenaikan harga emas.


Semua keunggulan emas itu kita pelajari pada beberapa artikel di Education, klik artikel Emas sebagai Penangkal inflasi, Investasi Emas, Siapa Takut, dan Ayo, Investasi Emas.
Kalau pun ada ‘kelemahan’ emas sebagai instrumen investasi, itu karena si investor harus memiliki sejumlah dana yang lumayan besar. Harga emas kini bermain di kisaran Rp 300.000/gram. Artinya, untuk memiliki 1 kg emas Anda harus merogoh pundi-pundi cukup dalam, Rp 300 juta. Berangkat dari sini Anda boleh berharap bakal meraih keuntungan. Katakanlah bulan depan harganya naik menjadi Rp 310.000/gram. Maka Return Of Investment (ROI)-nya dalam sebulan sebesar Rp 10.000/Rp 300.000 = 3,33%.

Tapi dengan hitung-hitungan seperti di atas, sepertinya emas sebagai instrumen investasi hanya cocok bagi mereka yang berkocek tebal. Bayangkan, untuk memperoleh laba Rp 10 juta sebulan, diperlukan modal Rp 300 juta. Di Indonesia, uang sebesar Rp 300 juta tentu jumlah yang tidak kecil bagi sebagian besar orang. Dan, jangan lupa, Rp 300 juta yang digunakan untuk investasi di emas itu haruslah duit nganggur. Artinya, belanja sehari-hari dan berbagai kebutuhan dasar lain tidak terganggu seandainya Rp 300 juta tadi ‘kena apa-apa’. Namanya juga investasi, tentu selain peluang meraup untung juga ada potensi kena hajar rugi.
Konvensional

Besarnya modal yang dibutuhkan untuk investasi emas disebabkan Anda selaku investor melakukannya dengan cara konvensional. Langkah pertama yang Anda lakukan setelah punya dana cukup adalah pergi ke penjual emas untuk membeli sesuai budget yang ada. Setelah itu, emas disimpan di tempat yang aman. Bisa di brankas, deposit bank, atau tempat lain yang dianggap sepi dari incaran tangan-tangan jahil.

Lalu, silakan Anda duduk manis sambil memantau pergerakan harga. Jika harga sudah terkerek naik sesuai harapan, emas pun dilepas. Caranya, ya Anda datang ke pembeli emas untuk menjual kembali emas tersebut. Dari selisih harga beli dan jual ini, laba pun ditangguk.

Coba perhatikan baik-baik tahap demi tahapan yang harus Anda lalui tadi. Selain membutuhkan dana yang relatif besar, repotnya pun luar biasa. Pergi membeli emas, menyimpan untuk beberapa saat, kemudian kembali menjual. Perkara repot ini masih harus ditambah dengan rawannya faktor keamanan. Siapa yang bisa menjamin dalam perjalanan pergi pulang untuk membeli dan menjual emas tersebut Anda bebas dari intaian para penjahat?

Masih ada persoalan lain. Bagaimana pula dengan fasilitas penyimpanan emas yang telah Anda beli? Benarkah 100% rapi-jali sehingga luput dari incaran para begundal? Ok, katakanlah aman. Bagaimana dengan risiko lain yang di luar kendali manusia? Kebakaran, misalnya? Belum lagi bencana alam seperti gempa bumi atau banjir. Apakah emas tadi tetap menjadi milik Anda dengan sentosa?

Baiklah, anggap saja aman dari jarahan penjahat, tidak ada kebakaran atau bencana alam. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah, bagaimana dengan mutu emas itu? Bagaimana keasliannya? Benarkah 24 karat yang diklaim si penjual sesuai kadarnya? Jangan-jangan kadarnya cuma 90%, 80% atau lebih rendah lagi. Puncak apesnya, jangan-jangan bukan emas asli, melainkan hanya logam yang disepuh dengan warna emas. Wuih… ngeri deh!


Lalu, bagaimana baiknya? Silakan klik disini untuk hubungi kami.


Share/Bookmark

DAFTAR ARTIKEL

LANGGANAN ARTIKEL

Masukan alamat email anda di sini untuk berlangganan artikel:

Delivered by FeedBurner

 

INFO HARVEST INTERNATIONAL FUTURES Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha